Di Ambang Gila
Setara dengan mimpi, asamu itu terbungkus seperti runyaman bungkus kacang. Tak perlu rasa itu menampar organ yang tak terlihat itu. Kau butuh jeda. Stop. Tak berlanjut sementara. Simpel tapi sulit dilakukan.
Rokokmu telah habis, nikotin masih di otakmu. Euforia terus menghantuimu. Seluruh otot tubuhmu menginginkanya lagi dan lagi. Tiba waktu setengah nyawamu dicabut jendrall…
Aku bukan iblis, tetapi aku menanti racun itu keluar dari tubuhmu yang lunglai itu. Orang paling jahat pun tak bisa melakukannya. Tanganmu terborgol. Kakimu diikat rantai yang mengikatnya ke dasar lantai.
Kau hanya bisa menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Mulutmu diikat kain putih dan air liur yang keluar dengan teriakkanmu terus membasahi lantai.
Dari ruangan empat kali empat meter itu, cahaya hanya bersinar satu arah dari lubang persegi empat kali 20 centimeter. Jatuh tepat mengenai kepalanya yang mencium dinginnya lantai itu.
“AAAAAAAAAAARRRRRRRRRRGHHHHH,”erangmu.
Dari balik ruang gelap itu, Brutus, penjagamu, memukul pintu karantinamu dengan keras. Gelegar pukulan itu memecah kegelapan ruanganmu. Tiga kali ia melakukannya selama dua detik.
Dirimu hanya membalasnya dengan satu teriakan tak jelas. Sesudah itu, giliran air matamu bicara. Seperti mengoyak jiwamu. Mungkin itu satu-satunya cara kau melepaskan beban batin itu, walau kondisimu tetap statis.
Matahari sepertinya sudah kembali dari peraduannya. Kau pun terlelap tidur. Aku harus kembali ke lubang kecilku. Tak ada makanan ku dapat dari ruangan jorok dan bau itu. Tapi kunikmati suasana itu dari atas karena aku tak bisa menolongmu sama sekali.
Malam berikutnya, aku kembali ke ruangan itu. Tapi entah kemana jendral cengeng itu. Sepi. Hanya rantai saja yang tertinggal. Mungkin ia sudah bebas dari jeratan hukumnya. Aku kembali berburu makan dari sejumlah bilik-bilik siksa manusia ini.
Paginya, kudengar suara keramaian dari ujung luar gedung ini. Entah apa yang terjadi. Banyak manusia yang menunggu di luar dan berteriak histeris. Apa yang mereka tunggu. Kulihat sebuah gambar besar mirip jendral terbentang disana. Dengan suara aneh yang belum kudengar sebuah benda putih bergerak ke luar gedung ini, dan manusia-manusia itu pun mengikutinya. Mereka pergi entah kemana, perlahan-lahan gedung ini pun kembali sepi. Aku pun kembali melanjutkan tidurku, untuk berburu makanan malam nanti.