Arsip Kategori: Prosa

Malam Ini

Malam Ini

Terbayang aku bisa di ruang bawah tanah di laut, ingin menghilang di dalamnya dan tidak pernah terlihat lagi. Aku lemah dalam kelaparan, tapi itu lebih baik daripada tak pernah mendapat kesempatan bicara. Bentang langit akan jadi kain kafan, monumen awan pun akan berdiri tepat di kaki bintang.

Continue reading


Bunga Kapas

Renggang waktu menanti jingga senja di pelupuk bahu tebing atas pantai.  Kaki ini tertatih ke tempat menanti bunga kapas yang beterbangan oleh halusnya angin laut.

Kapas-kapas terambang pelan di ruang atas bumi, tapi ia akan terus terdorong ke atas. Sampai di titik puncaknya, ia akan berputar seperti gasing  tapi tak teratur. Berputar dengan batang kecilnya ke bawah, terdorong gravitasi. Dan terus  melayang-layang.

Continue reading


Tugas Menjaga Rasa

Sampai di mana kau menaruhku? dalam nadimu, dalam jantungmu, dalam
darahmu atau dalam duburmu? Tak perlu kau tahu susahnya aku masuk
dalam tubuhmu. Lewat oksigen dalam aliran darahmu, aku menuju otak
untuk menyerangmu, tanpa sakit tanpa perlu kau lengah.

Continue reading


Tekdung Lalala

Tekdung Lalala

Tik tok tik tik tok tik. Kotak musik Risa berhenti berputar setelah 32 detik. Pelan, patung penari balet kecil itu juga berhenti menari. Kepala patung itu berhenti di depan muka Risa, yang sedang berbaring malas di kamarnya.

Plok! Ditutupnya kotak musik itu.

Risa mendirikan badannya. Ia menatap ke atas, banyak gantungan burung-burung kertas yang seolah terbang di langit kamarnya itu. Malam itu begitu penat baginya. Ia merasa tak biasa di malam itu. Semilir angin menembus dari kolong udara jendala kamarnya.

Continue reading


Sayatku

Sayatku

Lima menit berlalu, banyak darah yang keluar dari bagian bawah telapak tangan kiriku. Lama-kelamaan, sakitnya tak kurasakan lagi. Mataku pun semakin meredup. Seperti ada yang mematikan lampu kamarku ini. Perlahan, kujatuhkan silet dari tangan kananku.

Kudengar suara-suara orang memanggil, namun semakin lama semakin mengecil. Namun ku tak peduli. Sepi sudah menyambutku. Semuanya terasa hening.


 


Elegi Pendosa Kelamin

Elegi Pendosa Kelamin

Teringat waktu kecil Agas, ibunya selalu mengatakan agar kelak dewasa menjadi lelaki yang baik, bertanggung jawab, jujur, dan menghargai wanita. Mengiyakan saat itu, seperti angin lalu saja. Agas telah lupa. Petuah sederhana itu kini menegurnya dengan keras.

Naluri makhluk hedonis itu masih teringat akan masa kelamnya. Kenikmatan nafsu, keindahan tubuh, kecupan bibir, seks, dan hingar bingar narkotik. Semuanya begitu indah lampau, kini dia terbudak deritanya.

Continue reading


Di Ambang Gila

Di Ambang Gila

Setara dengan mimpi, asamu itu terbungkus seperti runyaman bungkus kacang. Tak perlu rasa itu menampar organ yang tak terlihat itu. Kau butuh jeda. Stop. Tak berlanjut sementara. Simpel tapi sulit dilakukan.

Rokokmu telah habis, nikotin masih di otakmu. Euforia terus menghantuimu. Seluruh otot tubuhmu menginginkanya lagi dan lagi. Tiba waktu setengah nyawamu dicabut jendrall…

Aku bukan iblis, tetapi aku menanti racun itu keluar dari tubuhmu yang lunglai itu. Orang paling jahat pun tak bisa melakukannya. Tanganmu terborgol. Kakimu diikat rantai yang mengikatnya ke dasar lantai.

Kau hanya bisa menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Mulutmu diikat kain putih dan air liur yang keluar dengan teriakkanmu terus membasahi lantai.

Dari ruangan empat kali empat meter itu, cahaya hanya bersinar satu arah dari lubang persegi empat kali 20 centimeter. Jatuh tepat mengenai kepalanya yang mencium dinginnya lantai itu.

“AAAAAAAAAAARRRRRRRRRRGHHHHH,”erangmu.

Dari balik ruang gelap itu, Brutus, penjagamu, memukul pintu karantinamu dengan keras. Gelegar pukulan itu memecah kegelapan ruanganmu. Tiga kali ia melakukannya selama dua detik.

Dirimu hanya membalasnya dengan satu teriakan tak jelas. Sesudah itu, giliran air matamu bicara. Seperti mengoyak jiwamu. Mungkin itu satu-satunya cara kau melepaskan beban batin itu, walau kondisimu tetap statis.

Matahari sepertinya sudah kembali dari peraduannya. Kau pun terlelap tidur. Aku harus kembali ke lubang kecilku. Tak ada makanan ku dapat dari ruangan jorok dan bau itu. Tapi kunikmati suasana itu dari atas karena aku tak bisa menolongmu sama sekali.

Malam berikutnya, aku kembali ke ruangan itu. Tapi entah kemana jendral cengeng itu. Sepi. Hanya rantai saja yang tertinggal. Mungkin ia sudah bebas dari jeratan hukumnya. Aku kembali berburu makan dari sejumlah bilik-bilik siksa manusia ini.

Paginya, kudengar suara keramaian dari ujung luar gedung ini. Entah apa yang terjadi. Banyak manusia yang menunggu di luar dan berteriak histeris. Apa yang mereka tunggu. Kulihat sebuah gambar besar mirip jendral terbentang disana. Dengan suara aneh yang belum kudengar sebuah benda putih bergerak ke luar gedung ini, dan manusia-manusia itu pun mengikutinya. Mereka pergi entah kemana, perlahan-lahan gedung ini pun kembali sepi. Aku pun kembali melanjutkan tidurku, untuk berburu makanan malam nanti.


Mata Mata

Mata Mata

Puluhan mil dia jalani hamparan pasir tak terhitung itu. Terasa panas, menelan mata kakinya setiap ia melangkah. Ke mana ia terus berjalan, semakin lama terik menusuk kepalanya.

Continue reading


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.