Feeds:
Tulisan
Komentar

Malam Ini

Malam Ini

Terbayang aku bisa di ruang bawah tanah di laut, ingin menghilang di dalamnya dan tidak pernah terlihat lagi. Aku lemah dalam kelaparan, tapi itu lebih baik daripada tak pernah mendapat kesempatan bicara. Bentang langit akan jadi kain kafan, monumen awan pun akan berdiri tepat di kaki bintang.

Sebagian ragaku mati, hatiku membatu setengah. Irislah ujung jemarimu, biarkan aku masuk dalam molekulmu. Dalam darah kita bersatu lagi. Hatiku yang lama kemudian akan terbakar hitam.

Tak mudah memang untuk kembali, seperti kulit kerang yang dibuka, ia tidak pernah akan serekat dahulu. Mutiaranya telah larut dalam emosi. Aku lupa untuk pulang, lupa untuk semuanya. Setiap hari kurasa mulai palsu.

Aku tahu semua yang kau katakan itu benar dan mungkin semuanya ada di sini selamanya sampai itu pergi. Aku ingin kau…

Bunga Kapas

Renggang waktu menanti jingga senja di pelupuk bahu tebing atas pantai.  Kaki ini tertatih ke tempat menanti bunga kapas yang beterbangan oleh halusnya angin laut.

Kapas-kapas terambang pelan di ruang atas bumi, tapi ia akan terus terdorong ke atas. Sampai di titik puncaknya, ia akan berputar seperti gasing  tapi tak teratur. Berputar dengan batang kecilnya ke bawah, terdorong gravitasi. Dan terus  melayang-layang.

Sesampainyadi pantai, beberapa detik air laut mendekap dan menyeretnya ke samudera hingga tak tahu kabarnya.

Tugas Menjaga Rasa

Sampai di mana kau menaruhku? dalam nadimu, dalam jantungmu, dalam
darahmu atau dalam duburmu? Tak perlu kau tahu susahnya aku masuk
dalam tubuhmu. Lewat oksigen dalam aliran darahmu, aku menuju otak
untuk menyerangmu, tanpa sakit tanpa perlu kau lengah.

Ketika kau bangun esok pagi, yang ada dalam pikiranmu adalah bayangan
laki-laki itu, yang menyuruhku masuk ke dalam tubuhmu. Keesokan
harinya lagi sesuai janjiku pada laki-laki itu, bayangannya sudah ada
dalam hatimu, dan aku membuatmu euforia kepadanya.

Bayaranku tak besar, tak perlu pengorbanan besar. Aku tercipta ketika
ada gelombang batin sepasang laki-laki dan perempuan tercipta. Jika
ada satu yang lemah, maka aku akan datang untuk menyerangnya dan
menguatkan rasa itu.

Aku bahagia kalau ada pasangan yang menyatu, tapi itu hanya di awal
saja. Ketika mereka berpisah aku pun dilupakan, begitu juga ketika
mereka hidup bersama dalam jangka waktu yang lama dan dipisahkan maut,
tugasku akan selesai. Tugasku menciptakan, menyatukan, dan menjaga
rasa itu.

Jika ada yang meragukan tugasku ketika ada pasangan yang berpisah atau
cerai, sungguh itu bukan tanggung jawab dan kuasaku sepenuhnya. Aku
kadang lemah jika ada faktor dari luar yang sangat besar yang
mempengaruhi rasa itu. Pasangan itu juga punya tanggung jawab untuk
menjawab rasa itu.

Jatuh

Aku berdiri di tepi atas gedung ini, kutatap mata ke atas dan kuangkat kedua tanganku ke samping.
Kupejamkan kedua mata ini lalu merebah ke depan. Kudengar beberapa teriakan wanita dan setelah itu hening.

Tekdung Lalala…

Tekdung Lalala..

Tik tok tik tik tok tik. Kotak musik Risa berhenti berputar setelah 32 detik. Pelan, patung penari balet kecil itu juga berhenti menari. Kepala patung itu berhenti di depan muka Risa, yang sedang berbaring malas di kamarnya.

Plok! Ditutupnya kotak musik itu.

Risa mendirikan badannya. Ia menatap ke atas, banyak gantungan burung-burung kertas yang seolah terbang di langit kamarnya itu. Malam itu begitu penat baginya. Ia merasa tak biasa di malam itu. Semilir angin menembus dari kolong udara jendala kamarnya.

Tak lama, ditundukkannya kepalanya tadi yang menengadah.

(Satu. Dua. Tiga.)

Tubuh Risa terduduk, kakinya melipat, kepalanya tertunduk lebih dalam. Rambutnya menutupi kepala.

Ketenangan kamar 4 x 6 meter persegi itu pecah oleh tangis Risa. Beberapa kali gadis kelas II SMA itu memukulkan tangannya ke lantai dan lemari. Tak sanggup ia menahan sedih dan kecewanya, ia membanting pigura di samping tempat tidurnya ke lantai. Diambilnya sebuah silet dan mulai menyayat lengan kirinya.

Jam dinding di kamar Risa menunjukkan 02.12. Dua puluh tiga menit berlalu setelah ia melakukan sayatan pertama ke tangan kirinya. Kamar itu tiba-tiba hening kembali.

Di tangan kirinya yang berdarah dipegangnya test pack yang bergaris dua berwarna merah.

Sayatku

Sayatku

Lima menit berlalu, banyak darah yang keluar dari bagian bawah telapak tangan kiriku. Lama-kelamaan, sakitnya tak kurasakan lagi. Mataku pun semakin meredup. Seperti ada yang mematikan lampu kamarku ini. Perlahan, kujatuhkan silet dari tangan kananku.

Kudengar suara-suara orang memanggil, namun semakin lama semakin mengecil. Namun ku tak peduli. Sepi sudah menyambutku. Semuanya terasa hening.

Elegi Pendosa Kelamin

Elegi Pendosa Kelamin

Teringat waktu kecil Agas, ibunya selalu mengatakan agar kelak dewasa menjadi lelaki yang baik, bertanggung jawab, jujur, dan menghargai wanita. Mengiyakan saat itu, seperti angin lalu saja. Agas telah lupa. Petuah sederhana itu kini menegurnya dengan keras.

Naluri makhluk hedonis itu masih teringat akan masa kelamnya. Kenikmatan nafsu, keindahan tubuh, kecupan bibir, seks, dan hingar bingar narkotik. Semuanya begitu indah lampau, kini dia terbudak deritanya.

Iblis menang. Ia tidak bisa disalahkan atas kejatuhannya. Ia menawarkan pilihan penuh godaan, dan Agas memilih jalan itu. Sempurna, kata iblis. Dia lalu tersenyum kecil, dan terus mengajak manusia lain menjadi sepertimu. Boneka kesayangannya.

Berat badan Agas menurun drastis. Empat belas kilogram sejak enam bulan yang lalu. Kulitnya mengering dan mengelupas dengan bintik merah tidak terhitung. Paling tampak adalah di tanganmu. Kau kini hanya bisa terbaring lemas.

Matanya sayu. Kemana lemak di bawah kulit wajah, lengan, paha dan perutnya itu. Bibirnya putih-putih seperti berjamur. Cairan berwarna ungu masih terbercak di bibir bawah, setelah seorang voulenteer meneteskan obat.

Pria 31 tahun ini pun pernah terbesit untuk mengelak kenyataan yang ia terima. Protes kepada Tuhan yang dikenalnya saat sekolah berulang kali dilakukan. Hujan sumpah serapah dilontarkannya. Tapi Tuhan baik. Dalam hening Agas menitikkan air mata. Semua kata-kata itu berbalik kepadanya dan membuatnya sadar.

Rio, teman laki-laki Agas setia mendampinginya. Rio pun tahu, kurang dari lima tahun lagi, ia akan menyusul Agas. Tapi ia tak menyesali hubungan dia dengan Agas. Ia tetap setia mendampingi. Dalam dirinya ia berharap Tuhan memberi kesempatan hidup di dunia satu kali lagi.

Dengan sedikit bergetar, Rio memegang sendok bertampung bubur ke arah mulut Agas. Satu sendok, hanya setengahnya saja yang bisa dikunyah Agas. Rio pun menangis, semakin lama kondisi Agas semakin memprihatinkan.

Dua hari, lewat 14 jam, 23 menit, 41 detik kemudian Rio hanya memangku foto Agas. Tak dijumpainya lagi sosok kekasih dalam raga sama itu. Sejalannya keluar dari ruang karantina, para perawat dengan masker dan sarung tangan mengeluarkan kasur perawatan Agas. Seluruh pakaian, piring, gelas,sedotan, sendok dan semuanya dimasukkan dalam plastik besar untuk dimusnahkan.(***)

Pelukis Simpang Jalan

Pelukis Simpang Jalan

BEBERAPA lembar daun beringin terlepas dari rantingnya. Mereka jatuh di trotoar yang basah setelah hujan. Angin lalu menggoda pori kulit. Saraf meneruskannya dan membuat badan pria itu menggigil.

Sejak sore, cuaca menghalangi warga menuju ke galerinya. Bagi Kasiman, itu tak masalah. Kuas sepanjang 30 centimeter itu ditinggalkannya sejenak dan meneruskan menyapu halaman galerinya.

Cukup banyak ranting dan daun yang berjatuhan. Seperti kerikil dalam batu, halaman kotor cukup membuatnya tak merasa tenang.

Sepuluh menit berlalu, ia menoleh ke belakang, dilihatnya sesosok wanita dalam kanvas menanti untuk diselesaikan. Bergegas sampah-sampah itu dimasukkan ke dalam tong.

Sambil mengosok-gosokkan ke dua tangan di baju kusutnya, pria dengan tiga anak itu masuk kembali ke dalam galeri.

“Ahhh. Lanjut lagi,” sebut Kasiman, saat duduk sambil membenarkan posisi kacamata minus 3-nya di batang hidungnya.

Sudah setahun ini Kasiman tidak mencukur rambutnya. Ia membiarkannya diurai begitu saja, meski tak semuanya berwarna hitam.

Di dalam galeri ia mendengar berisik dari luar.

“Stop, berengsek,” teriak polisi dengan jas hujan sambil memukul bagian depan mobil Inouva sebanyak dua kali. Pengendara sepeda motor samping mobil itu hanya melihat polisi tersebut sambil menurunkan kaki kirinya. Sepuluh detik mereka tetap pada posisi seperti itu.

Tak lama suara sirine terdengar dari arah Senayan dan semakin mendekat.

“Ohh..Presiden lewat. Biasa aja itu Mas, nggak usah dilihatin,” kata Kasiman yang terus asyik menggoreskan tinta ke permukaan kanvasnya.

Mulutnya kemudian mengepulkan asap putih. Bagi Kasiman, rokok membuatnya tetap fokus pada yang dikerjakannya. Lebih santai dan mendapat inspirasi berbeda-beda.

Sudah delapan tahun Kasiman melukis di depan Gedung Kesenian Jakarta itu. Tak peduli suara kendaraan yang meraung-raung saat siang hari, itu lah pekerjaannya.

Ada perbedaan yang sangat dirasakan Kasiman saat ini. Semi karikatur menjadi tren di masyarakat sekarang. Tak hanya tokoh atau pejabat yang dilukis seperti itu, warga biasa pun tertarik dilukis untuk memunculkan karakter humoris atau berbeda dalam diri mereka.

Secara tak langsung ini juga berpengaruh pada idealismenya. Kasiman tidak bisa lagi berpegang pada satu alirannya saja. Jika tetap nekat, maka ia akan ditinggalkan pasar.

“Kalau ngelukis dengan aliran sendiri kadang-kadang aja Mas. Paling ngelukis pas lagi sepi atau untuk ikut pameran,” terang pria yang sering ambil bagian di pameran di Galeri Nasional tersebut.

Kasiman sebelumnya adalah seorang guru sekolah dasar. Ia lulus dari Sekolah Pendidikan Guru di Jakarta tahun 1990. Karena tak ingin terbelit dengan birokrasi dan terus berkarya ia memutuskan untuk menjadi pelukis lepas.

Dalam satu bulan, ia bisa mendapatkan Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Namun, bisa juga kurang dari itu, katanya.

“Hidup di kota besar, nggak cukup dengan nilai itu. Apalagi yang sudah punya keluarga. Jadi harus pintar-pintar mengelola uang,” katanya.

Tulisan Sebelumnya »