Pelukis Simpang Jalan
BEBERAPA lembar daun beringin terlepas dari rantingnya. Mereka jatuh di trotoar yang basah setelah hujan. Angin lalu menggoda pori kulit. Saraf meneruskannya dan membuat badan pria itu menggigil.
Sejak sore, cuaca menghalangi warga menuju ke galerinya. Bagi Kasiman, itu tak masalah. Kuas sepanjang 30 centimeter itu ditinggalkannya sejenak dan meneruskan menyapu halaman galerinya.
Cukup banyak ranting dan daun yang berjatuhan. Seperti kerikil dalam batu, halaman kotor cukup membuatnya tak merasa tenang.
Sepuluh menit berlalu, ia menoleh ke belakang, dilihatnya sesosok wanita dalam kanvas menanti untuk diselesaikan. Bergegas sampah-sampah itu dimasukkan ke dalam tong.
Sambil mengosok-gosokkan ke dua tangan di baju kusutnya, pria dengan tiga anak itu masuk kembali ke dalam galeri.
“Ahhh. Lanjut lagi,” sebut Kasiman, saat duduk sambil membenarkan posisi kacamata minus 3-nya di batang hidungnya.
Sudah setahun ini Kasiman tidak mencukur rambutnya. Ia membiarkannya diurai begitu saja, meski tak semuanya berwarna hitam.
Di dalam galeri ia mendengar berisik dari luar.
“Stop, berengsek,” teriak polisi dengan jas hujan sambil memukul bagian depan mobil Inouva sebanyak dua kali. Pengendara sepeda motor samping mobil itu hanya melihat polisi tersebut sambil menurunkan kaki kirinya. Sepuluh detik mereka tetap pada posisi seperti itu.
Tak lama suara sirine terdengar dari arah Senayan dan semakin mendekat.
“Ohh..Presiden lewat. Biasa aja itu Mas, nggak usah dilihatin,” kata Kasiman yang terus asyik menggoreskan tinta ke permukaan kanvasnya.
Mulutnya kemudian mengepulkan asap putih. Bagi Kasiman, rokok membuatnya tetap fokus pada yang dikerjakannya. Lebih santai dan mendapat inspirasi berbeda-beda.
Sudah delapan tahun Kasiman melukis di depan Gedung Kesenian Jakarta itu. Tak peduli suara kendaraan yang meraung-raung saat siang hari, itu lah pekerjaannya.
Ada perbedaan yang sangat dirasakan Kasiman saat ini. Semi karikatur menjadi tren di masyarakat sekarang. Tak hanya tokoh atau pejabat yang dilukis seperti itu, warga biasa pun tertarik dilukis untuk memunculkan karakter humoris atau berbeda dalam diri mereka.
Secara tak langsung ini juga berpengaruh pada idealismenya. Kasiman tidak bisa lagi berpegang pada satu alirannya saja. Jika tetap nekat, maka ia akan ditinggalkan pasar.
“Kalau ngelukis dengan aliran sendiri kadang-kadang aja Mas. Paling ngelukis pas lagi sepi atau untuk ikut pameran,” terang pria yang sering ambil bagian di pameran di Galeri Nasional tersebut.
Kasiman sebelumnya adalah seorang guru sekolah dasar. Ia lulus dari Sekolah Pendidikan Guru di Jakarta tahun 1990. Karena tak ingin terbelit dengan birokrasi dan terus berkarya ia memutuskan untuk menjadi pelukis lepas.
Dalam satu bulan, ia bisa mendapatkan Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Namun, bisa juga kurang dari itu, katanya.
“Hidup di kota besar, nggak cukup dengan nilai itu. Apalagi yang sudah punya keluarga. Jadi harus pintar-pintar mengelola uang,” katanya.